Senin, 23 Januari 2012

Rokok

Rokok menjadi barang yang selalu laku terjual karena banyaknya orang yang mengkonsumsi rokok. WHO memperkirakan pada tahun 2030 kelak jumlah kematian akibat merokok di dunia mencapai 10 juta jiwa setiap tahunnya, dan akan didominasi oleh negara-negara berkembang. Selain itu kematian juga lebih banyak dialami oleh perokok berat.
Banyak faktor yang mendorong seseorang mengkonsumsinya, diantaranya karena faktor lingkungan, kepribadian, ekonomis, dan tekanan sosial.

Faktor lingkungan

Banyak remaja mulai mengenal dan kemudian menjadi perokok pemula karena berawal dari rumah. Kebiasaan orang tua merokok ternyata memberi dampak bagi perilaku remaja untuk mencoba rokok. Dalam Journal of Consumer Affairs disebutkan bahwa orang tua perokok akan berpengaruh dalam mendorong anak mereka untuk menjadi perokok pemula di usia remaja. Diperkirakan faktor merokok ini akan meningkatkan kemungkinan merokok 1,5 kali pada anak lelaki dan 3,3 kali lebih besar pada anak perempuan.
Secara psikologis, toleransi orang tua terhadap asap rokok di rumah akan membentuk nilai bagi anak bahwa merokok adalah hal yang boleh-boleh saja dilakukan, dan mereka juga merasa bebas untuk merokok karena tidak ada sangsi moral yang diberikan oleh orang tua. Pada tahap selanjutnya, banyak penelitian membuktikan bahwa perokok pemula di usia remaja lebih dari setengahnya akan menjadi perokok berat saat mereka berusia 30-40 tahun kelak. Selain itu faktor lingkungan teman dan pergaulan juga memberi pengaruh besar terhadap remaja untuk menjadi perokok pemula. Banyak orang terdorong menjadi perokok pemula untuk menyesuaikan diri pada sebuah komunitas pergaulan, rokok membuat mereka merasa lebih diterima oleh banyak orang.

Faktor kepribadian

Secara kepribadian, kondisi mental yang sedang menurun seperti stres, gelisah, takut, kecewa, dan putus asa sering mendorong orang untuk menghisap asap rokok. Mereka merasa lebih tenang dan lebih mudah melewati masa-masa sulit setelah merokok. Memang tak bisa dipungkiri bahwa ada 2 hal dari rokok yang memberi efek tenang, yaitu nikotin dan isapan rokok. Dalam dosis yang tertentu, asupan nikotin akan merangsang peroduksi dopamine (hormon penenang)di otak, maka faktor merokok ini membuat seseorang akan merasa lebih tenang setelah menghisap rokok, tetapi ini hanya sesaat dan akan berbalik menjadi efek buruk bagi kesehatan secara permanen. Ditambahkan lagi, dari sebuah literatur disebutkan bahwa gerakan bibir menghisap dan menghembuskan lagi asap rokok memberi efek tenang secara psikis. Dianalogikan bahwa gerakan ini seperti pada gerak refleks seseorang saat menghela nafas untuk menenangkan dirinya saat menghadapi masalah.


Faktor ekonomis dan tekanan sosial

Harga rokok yang sangat terjangkau juga membuat banyak perokok pemula merasa ringan untuk mencicipi rokok, begitu rokok menjadi bagian hidupnya maka ia akan terus membeli rokok dan menjadi perokok berat di kemudian hari. Kemudian tekanan sosial juga membuat banyak perokok pemula memliki pandangan bahwa rokok merupakan simbol laki-laki. Media masa merupakan sarana utama yang membentuk persepsi demikian. Bagaimana tidak, iklan rokok selalu digambarkan sebagai simbol lelaki sejati yang perkasa, jantan, tampan, glamour, dan kreatif. Ini menjadi daya pikat tersendiri baik bagi perokok pemula maupun perokok berat.




Buta Warna

Buta warna adalah istilah umum untuk gangguan persepsi warna. Penderita buta warna kesulitan membedakan nuansa warna atau buta terhadap warna tertentu. Buta warna tidak dapat disembuhkan. Menurut statistik, sekitar 9% laki-laki dan 0,5% perempuan menyandang buta warna. Masalah mereka terutama adalah membedakan nuansa hijau (deuteranomali) atau nuansa merah (protanomali) dan kebutaan warna hijau (deuteranopia) atau warna merah (protanopia). Kesulitan atau kebutaan terhadap warna biru dan buta warna total sangat jarang terjadi.

Penyebab Buta Warna

1.      Bawaan

Buta warna adalah kondisi yang diturunkan secara genetik. Dibawa oleh kromosom X pada perempuan, buta warna diturunkan kepada anak-anaknya. Ketika seseorang mengalami buta warna, mata mereka tidak mampu menghasilkan keseluruhan pigmen yang dibutuhkan untuk mata berfungsi dengan normal.

2. Ketiadaan sel kerucut

Retina mata memiliki hampir tujuh juta sel fotoreseptor yang terdiri dari dua jenis sel– sel batang dan sel kerucut– yang terkonsentrasi di bagian tengahnya yang disebut makula. Sel batang sangat sensitif terhadap cahaya, dan dapat menangkap cahaya yang lemah seperti cahaya dari bintang di malam hari, tetapi sel itu tidak dapat membedakan warna. Berkat sel batang kita dapat melihat hal-hal di sekitar kita di malam hari, tetapi hanya dalam nuansa hitam, abu-abu, dan putih. Sel kerucut dapat melihat detail obyek lebih rinci dan membedakan warna tetapi hanya bereaksi terhadap cahaya terang. Kedua jenis sel tersebut berfungsi saling melengkapi sehingga kita bisa memiliki penglihatan yang tajam, rinci, dan beraneka warna.
Ada tiga jenis sel kerucut pada retina. Mereka masing-masing berisi pigmen visual (opsin) yang berbeda sehingga bereaksi terhadap panjang gelombang cahaya yang berbeda : merah, hijau dan biru. Sel kerucut menangkap gelombang cahaya sesuai dengan pigmen masing-masing dan meneruskannya dalam bentuk sinyal transmisi listrik ke otak. Otak kemudian mengolah dan menggabungkan sinyal warna merah, hijau dan biru dari retina ke tayangan warna tertentu. Karena perbedaan intensitas dari masing-masing warna pokok tersebut, kita dapat membedakan jutaan warna. Gangguan penerimaan cahaya pada satu jenis atau lebih sel kerucut di retina berdampak langsung pada persepsi warna di otak. Seseorang yang buta warna memiliki Sel-sel kerucut di dalam retina mata mengalami pelemahan atau kerusakan permanen.

3. Kelainan genetik

Buta warna adalah kelainan warisan. Karena gen untuk pigmen visual merah dan hijau terdapat pada kromosom X, buta warna merah atau hijau umumnya terjadi pada laki-laki. Tidak seperti wanita, laki-laki hanya memiliki satu kromosom X sehingga tidak ada salinan cadangan yang bisa mengganti gen cacat yang sesuai. Seorang wanita harus memiliki cacat pada kedua-kromosom X agar menjadi buta warna merah atau hijau. Bila hal itu terjadi, anak laki-lakinya juga pasti buta warna, karena dia mewarisi kromosom X dari ibunya. Selain karena keturunan, bentuk buta warna yang ringan juga disebabkan oleh mutasi gen opsin pada kromosom X.
Cedera otak atau stroke dapat mengganggu pengolahan warna di otak. Jika buta warna baru terjadi di usia remaja atau dewasa, penyebabnya adalah penyakit di makula, misalnya karena degenerasi makula atau kerusakan saraf optik di belakangnya.

Bagaimana mengetahuinya?
Banyak orang yang tidak menyadari dirinya buta warna. Hal ini karena mereka umumnya bukan tidak dapat melihat suatu warna, tetapi hanya kesulitan membedakan nuansanya. Namun, sebenarnya mereka bisa menyadarinya dari masalah-masalah yang sering dihadapi. Hal yang sederhana pada orang lain seringkali menjadi masalah bagi mereka. Misalnya, ketika harus memilih sepasang kaus kaki dari kaus kaki lain yang warnanya mirip atau membedakan warna kabel. Mereka juga mungkin sering menggunakan warna mencolok karena ketidakpekaan terhadap warna.

Tes buta warna
Tes standar untuk mendiagnosis buta warna adalah tes Ishihara, yang banyak digunakan di kantor-kantor, sekolah-sekolah, dan instansi lainnya untuk menyeleksi calon mahasiswa/karyawan. Tes Ishihara terdiri dari 38 set warna yang secara ekstensif menskrining buta warna. Masing-masing set terdiri dari lingkaran-lingkaran dengan titik-titik mosaik bernuansa hijau-merah yang berbeda. Di dalam mosaik terdapat pola-pola angka (“angka atau huruf tokek”) yang tidak dapat dilihat orang yang buta warna tetapi mudah dilihat orang normal.